Anak Pertama dengan Anak Pertama
Pernikahan anak pertama dengan anak pertama seringkali ditakuti karena katanya anak pertama itu keras nanti kalo jodohnya sama-sama anak pertama bakal sama sama keras ga ada yang mau ngalah dan sering cekcok.
Tapi Alhamdulillah, Masyaallah Tabarakallah aku sama suami meskipun sama sama anak pertama, seusia pula namun percekcokan dan sama-sama keras itu jarang terjadi. Malahan komunikasi kita jadi nyambung banget kaya sama temen karena seusia.
kok bisa?
Tentu bisa karena dari awal aku sama suami udah sama sama tau karakter masing-masing kaya gimana. bukan maksudnya saling mencari tau melalui proses kenalan panjang tapi kita terbuka di awal soal kepribadian masing-masing. kaya misalnya aku tau aku ini keras kepala, aku sampaikan dari awal kenal dan liat respon dia, menurut dia sekeras kepala apapun perempuan pasti bisa kalah sama argumen dia yang logis dan valid. terus dia juga bilang kalau dia orangnya kalo ngomong to the point dan kadang ga di filter. aku bisa terima karena aku pun begitu. seiring dengan waktu ketika hubungan kita mulai menuju ke arah serius kita mulai sama-sama aware bahwa beban dan tanggung jawab kita di keluarga masing-masing sama sama berat. awalnya sebelum menikah kita bikin batasan dulu, kaya masalah keluarga kamu urusan kamu masalah keluarga aku urusan aku. untuk menghindari percekcokan tadinya.
terus gimana setelah menikah?
awal menikah masih sama-sama adaptasi. ada sifat dan kebiasaan aku yang lumayan bikin suami culture shock namun karena dari awal dia udah pede bahwa sekeras kepala apapun aku pasti dia bisa bantah dengan argumen dia yang logis dan valid akhirnya hampir semua koreksian dia terhadap aku emang tidak terbantahkan. Disinilah aku yang awalnya sangat dominan mulai ngikut apa kata suami. karena emang yang dia bilang bener, ngapain lagi di bantah.
Terus diskusinya gimana? diskusi tetep ada, selayaknya perempuan ketika dikasih tau pasti respon awalnya ngeyel, ngebantah, dan cari pembenaran. tapi itu semua gak jadi cekcok berkepanjangan apalagi sampai ribut karena ketika ngobrol sama pasangan apalagi sudah menikah, sebagai isteri aku mencoba untuk jadi gelas kosong yang siap diisi. kita nikah itu kan memulai hidup baru ya. nah begitupun aku yang ketika menikah aku mencoba menempatkan diri aku sebagai pribadi baru yang siap di bentuk jadi pribadi yang lebih baik sesuai yang diinginkan suami dengan tentunya mengharap dari Ridho Illahi. jadi emang penting banget untuk menyelesaikan semua urusan diri sendiri sebelum menikah. jangan sampai sampah-sampah masa lalu masih nempel di diri kita ketika menikah, karena bisa jadi itu yang menghambat hubungan dengan suami terutama ketika suami ingin mendidik kita supaya menjadi pribadi yang lebih baik.
Pernah ribut ga? tentu pernah dong, rumah tangga mana yang ga pernah ribut. cuma biasanya kita analisis ini ributnya kenapa, salah presepsi kah atau miss communication. karena kadang kalau lagi sama sama capek energi sesama anak pertama suka bentrok. biasanya bisa diatasi dengan membaca situasi sebelum ngobrolin hal hal penting. Atau kasih jeda jika dirasa situasi mulai memanas. biarin cooling down masing-masing dulu.
peran sesama anak pertama di keluarga.
nah yang aku rasakan di pernikahan sesama anak pertama adalah peran di keluarga. waktu awal-awal sebelum menikah kita kan mencoba kasih batasan bahwa urusan keluarga masing-masing tanggung jawab masing-masing. di fase awal pernikahan kita baru sebatas sharing, intinya cerita atau curhat kaya ke temen lah soal keluarga masing-masing. seiring dengan waktu kita berusaha saling bantu. awalnya cuma kasih saran doang, lama-lama ikut terlibat. terus gimana? jadi cekcok ga? Alhamdulillah nya nggak. selama 3 tahun menikah jujur cobaan emang lebih banyak datang dari situasi di luar hubungan kita berdua. cara kita menyikapi nya sekarang adalah karena kita sudah menikah kita hadapi semua bersama.
Jadi kalo udah sama sama selesai dan berdamai dengan diri sendiri bisa loh sesama anak pertama itu jadi tim yang kompak banget. karena sama-sama anak pertama jadi di otaknya sama-sama ingin terlibat dan ingin membantu. Dan menurut aku itu yang seru karena jadi ga ada yang pasif dua duanya sama sama aktif ingin melakukan sesuatu.
soal mimpi dan cita-cita
nah ini yang rada tricky karena kadang anak pertama kalau udah ada tujuan atau cita-cita pasti harus di eksekusi, minimal kita cobain dulu. setelah menikah suami mengajarkan aku untuk realistis dan tau prioritas. bukannya tidak boleh punya cita-cita atau mimpi yang besar tapi segala sesuatu itu kan harus terukur terus harus bisa kita analisis nih why nya. apakah why nya itu positive atau sekedar hasrat dan ego belaka. jangan sampai karena hasrat dan ego semata kita malah mengorbankan sesuatu yang jauh lebih penting. karena dari awal yang diajarkan suami adalah logis, realistis, dan tau prioritas jadi tidak ada yang merasa paling berkorban. kita sama sama bergerak di jalan hidup kita masing-masing, bersama-sama saling mengingatkan akan fungsi kita hidup di dunia dan tujuan awal pernikahan yang dilandasi ibadah dan mengharap ridho Allah subhanawata'alla. serta mencoba menghadapi semua cobaan bersama dengan positive mindset ♥️
so far itulah POV anak pertama menikah dengan anak pertama. semoga bisa menjadi gambaran dan pelajaran dan kurangnya tolong di maafkan ya 🙂
blog diary
تَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
✨🌙
Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua,
memaafkan segala khilaf, dan melimpahkan keberkahan.
🤍 Selamat Hari Raya Idul Fitri 🤍
Mohon maaf lahir dan batin 🙏
It’s been way too long since my last column. This time, it isn’t even really a column—just me rambling about everything that’s been happening in my life.
Being an adult is exhausting. There are so many responsibilities, leading to so many things to think about.
As an adult, I barely have the space to think about my life anymore—let alone my dreams. I’ve finally reached a point where I just live day by day, paycheck to paycheck, with countless bills to pay.
Unsweetened coffee and vaping have become my best friends on the hardest days. God has blessed me with a husband whose ears I can borrow to listen to all my thoughts. But sometimes, an adult mind tends to exaggerate everything. With a company to run, bills to pay, sisters still under my responsibility, parents who rely on me, and society with its expectations—it can all feel overwhelming.
The last one might not be as important, since I’ve always been eager to break societal expectations and live life on my own terms. Still, I am someone who, every day and every year, tries to become a better person. And all of that only leads to more challenges in life.
It’s been five years since my dad passed away. For five years, I’ve been continuing his legacy by running his company with my family. It’s been five years of paying off the debt he left behind—and things have gotten so much better. The debt has decreased significantly.
But on the hardest days, I still find myself questioning: am I managing this company well enough? Or did my dad run it better than I ever could? I may never know the answer. But one thing is certain—we were in very different positions. He was the founder; I am the heir. He built the business from scratch, while I had to run it starting from a deficit—lacking experience, cash flow, and almost everything you could imagine.
I’ve been through the hardest days—right after he passed away, when everything was suddenly left for me to handle. I promised him I would do my best to fix everything. That was me, five years ago, at 26 years old, without a husband. And even today, I still can’t believe what I’ve managed to do over these past five years. It feels unimaginable for someone as childish as I was to carry such responsibility. Without God’s help, I’m sure I wouldn’t be where I am today.
But just like someone who has just graduated from high school and is suddenly faced with real life, after surviving that first year of struggle, new challenges began to appear. New obstacles that I must conquer. New tests that I must pass.
The biggest one is learning how to be thankful even in the hardest situations—how to stay grateful. Imagine trying to feel grateful while carrying such a heavy burden. Imagine being grateful when you still have debts to pay, sisters to care for, parents who rely on you.
Perhaps the greatest—and maybe the only—thing I can always be grateful for is that I’m no longer standing alone. Having a partner is something truly worth being thankful for.
So this is me, rambling about life, hoping that this blog—this diary—can serve as a reminder of what I’ve been through and what will eventually pass.
The point of this writing is simple: there will always be hard times in life, but they will pass.
This is just me trying to clear my mind by writing it all out.
Bukan childfree
Anak itu bagai kanvas kosong. Kita Tau kan kanvas itu harganya tidak murah, sehingga ketika kita mau melukis di kanvas, banyak yang kita pikirkan. Mau melukis apa, pakai cat apa, bahan kanvas nya nanti pakai yang gimana, bahkan sebelum melukis di kanvas kadang kita buat dulu sketsa gambar yang akan dilukis itu. Terus ketika mau menorehkan tinta, kita oles dengan hati hati tinta itu di kanvas. Kurang lebih begitu penggambaran fatiya soal anak.
Memiliki anak itu tidak sama seperti memilih pasangan Dan menikah. Karena ketika menikah kita Dan pasangan kita sama sama dua orang manusia yang sudah dewasa. Namun anak itu adalah manusia mungil yang bahkan belum bisa apa-apa. Mereka hanya bisa bergantung pada orang dewasa di sekitarnya.
Secara biologi, bayi manusia lahir dalam keadaan premature meskipun lahir di usia kandungan 9 bulan. Karena setelah lahir, bayi manusia tumbuh sempurna di pelukan ibunya. Itulah mengapa bayi manusia sangat bergantung pada orang dewasa di sekitarnya. Tanpa bantuan orang dewasa, hampir mustahil seorang bayi yang baru dilahirkan bisa bertahan hidup.
Menurut penelitian, pada usia kehamilan 4 minggu, janin sudah memiliki otak, tulang belakang, Dan jantung. Tiga organ ini adalah kunci Dari jiwa Dan raga seorang manusia. Sehingga menurut Islam, pendidikan anak dimulai sejak Dari dalam kandungan.
Ketika mengibaratkan anak bagai kanvas putih, sewajarnya seorang calon orangtua merencanakan akan dijadikan manusia dengan pribadi Dan fisik seperti apa anak ini. Calon orangtua yang baik akan memikirkan nutrisi yang masuk ke tubuh calon anaknya, baik itu nutrisi rohani maupun nutrisi jasmani.
Maka ketika mengibaratkan anak bagai kanvas putih, memiliki anak memerlukan sebuah perencanaan. Disiapkan fisik calon ibunya, disiapkan nutrisi untuk calon bayi nya kelak, disiapkan pula pendidikan untuk calon bayi sejak dalam kandungan. Terlepas Dari hasil akhirnya bagaimana itu Kuasa Allah subhanawataalla, namun sebagai calon orangtua selayaknya kita merencanakan baik-baik sebelum memiliki anak. Jangan sampai anak kita nanti terlahir hanya untuk memenuhi populasi bumi yang sudah tua Dan rusak.
Anak itu tidak pernah meminta untuk dilahirkan, kita yang menjadikan dia ada, Allah subhanawataalla yang menghidupkannya di Rahim seorang wanita. Dan ketika Allah subhanawataalla meniupkan ruh kedalam janin maka telah Allah titipkan amanah anak pada diri manusia itu. Kita jaga, kita sayangi, kita didik. Namun selayaknya titipan, ketika Allah subhanawataalla memintanya kembali kita pula dituntut untuk ikhlas.
Ikhlas Dan tawakal adalah jalan kunci kehidupan. Kita bisa ikhlas Dan tawakal menerima amanah, maka kita juga harus bisa ikhlas Dan tawakal ketika amanah tersebut harus kembali kepada pemiliknya yang Maha Memiliki.
Semoga postingan ini bisa membuat para calon orangtua benar-benar menganggap serius dalam memiliki Dan membesarkan seorang anak. Dan bagi mereka yang belum dikarunai keturunan untuk senantiasa bersabar Dan ikhlas. Tidak ada yang Salah dengan menunda memiliki anak. Tidak ada yang Salah dengan tidak ingin memiliki anak, karena keputusan kita yang menjadikan anak itu ada Dan hanya kita yang mengetahui diri kita juga kemampuan kita. Namun sesungguhnya Allah subhanawataalla Maha mengetahui Dan tidak akan Allah bebankan kita sesuatu melainkan Allah Tau kita mampu.
Proud of my brother
Mungkin aku jarang sekali bercerita tentang adik laki-laki ku. Ya, memang seperempat Abad kami hidur bersama kita sering berbeda pendapat. Tak jarang kita juga menjadi rival demi mendapatkan perhatian orangtua. Maklum jarak usia kita cuma beda satu setengah tahun.
Tapi belakangan ini, setelah tiga tahun ditinggalkan oleh bapak. Apalagi setelah aku menikah, fauzan menunjukan perubahan yang pesat. Ya memang dia duluan menikah melangkahi aku, tapi tetap saja bagiku dia adalah adikku. Kadang aku lupa kalau meskipun dia adik tapi dia adalah laki-laki yang ditakdirkan untuk memimpin.
Mungkin hari dimana aku menikah Dan fauzan menjadi waliku yang sah Dan Utama adalah hari dimana aku sadar bahwa aku mulai memandang dia sebagai pemimpin.
Adikku sosok yang sangat rendah hati, jujur, bertanggung jawab, Dan juga perasa. Dia tidak pernah merasa hebat apalagi sombong. Meskipun kadang terlihat cuek, tapi di dalam didinya dia adalah pribadi yang sangat peduli pada sekitar. Pernah satu waktu tanganku teriris pecahan kaca Dan dia dengan sigap membantu. Hal itu jujur jarang terjadi, tapi itu pasti terjadi kalau dia ada di lokasi kejadian kecelakaan atau apapun itu dia akan langsung bertindak, seolah itu sudah menjadi reflex baginya.
Itulah sosok fauzan yang aku kenal. Dan hari ini aku melihat dia semakin bertumbuh menjadi dewasa, bertanggung jawab, menjadi sosok pemimpin bukan hanya bagi keluarganya tapi juga bagi perusahaan.
Sosok fauzan yang selalu mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri itulah yang seringkali membuatku kesal sekaligus kagum.
Sepeninggal bapak, fauzan adalah laki-laki satu-satunya di keluarga kami. Pasti tidak mudah untuk usianya saat itu yang bahkan belum 25 tahun. Namun dia dengan sabar mendengarkan kritik Dan terus bertumbuh.
Didampingi oleh isteri yang juga solehah, fauzan terus bertumbuh. Begitupun aku. Di rumah, aku, fauzan Dan pasangan kami masing-masing berusaha belajar Dari satu sama lain untuk membangun keluarga yang utuh, sakinah, mawadah, Dan warahmah. Kami percaya bahwa bukan cucu yang akan membuat mamah bahagia, namun melihat anak-anaknya akur Dan menjalani pernikahan yang baik dan rumah tangga yang utuh. Kami sadar bahwa sepeninggal bapak kami harus bekerja sama dalam segala Hal. Terlebih menjadi contoh Dan panutan bagi adik bungsu kami yang kini beranjak dewasa. Tak bisa dipungkiri pernikahan aku Dan rangga, fauzan Dan ayu menjadi gambaran nyata kehidupan menikah bagi adik kami. Dan semoga kami bisa terus akur Dan terus rukun.
Creating new life with you
Alhamdulillah Masyaallah Tabarakallah, atas izin Allah subhanawataalla tahun ini aku Dan kamu bisa membangun rumah sederhana hasil karya kita berdua. Gak pernah menyangka Allah subhanawataalla begitu baik karena sudah mempertemukan aku dengan kamu.
Aku Masih ingat tahun 2020 dulu sebelum ketemu kamu, aku sempet hunting rumah hunian. Saat itu aku belum nikah, cuma aku mikirnya harus mulai nyicil rumah, supaya uang aku tuh tersimpan di sesuatu yang bermanfaat, bisa buat investasi, Dan juga gak abis dengan cuma-cuma. Tapi dulu qadarullah belum ketemu rumah yang cocok. Sampai akhirnya 2022 ketemu Sama kamu, aku sama sekali ga expect apa-apa. Cuma begitu kamu kasih Tau spending bulanan Salah satunya cicilan rumah Dan ngasih ke orangtua. Meskipun kamu bilang rumahnya jauh banget makanya kamu kontrakin karena emang ga niat buat ditinggali dalam waktu dekat. Cuma buat investasi aja sama biar uang gaji kamu ga abis sama Hal yang gak jelas. Disitu aku merasa respect Dan bersyukur ketemu orang yang prinsip Dan pola pikir nya sejalan sama aku.
Akhirnya 2023 kita nikah Dan setelah setahun nikah kamu Masih belum sempet ajak aku ke rumah yang belum kamu tinggali itu. Karena kata kamu jauh banget rumahnya. Tapi pas pertengahan 2024 kamu ajak aku kesana, emang sih jauh banget, cuma buat aku it's worth for every minute.
Akhirnya setelah menghitung tabungan aku memberanikan diri buat ajak kamu bangun rumah itu. Setelah penghuni kontrakan pergi, kita mulai ukur-ukur, kamu bikin layout rumah Dan aku yang ngurusin detail-detail Dan perencanaan keuangannya.
Dua bulan membangun rumah merupakan perjalanan yang luar biasa. Bolak balik sumedang pake umum, kadang pake motor dengan perjalanan 90 menit sampe lokasi terus pulang nya 90 menit lagi itu melelahkan. Apalagi cobaan dibulan pertama tuh subhanallah gak terduga. Dan banyak kejadian lah selama ngebangun rumah ini tuh. Sampe terakhir kita harus manggil damkar buat usir hama tawon vespa yang gatau udah bersarang sejak kapan di bawah genteng rumah.
Ketika akhirnya beres, masyaallah lega luar biasa, sampai ga kerasa aku saking bahagianya mungkin mulai naik berat badan. Efek sering bolak balik sumedang Dan ga sempet olahraga.
Dari perjalanan membangun rumah ini aku sama kamu belajar banyak. Bukan cuma bonding sama satu sama lain tapi juga bonding sama pegawai yang ngerjain rumah kita. Bersyukur banget punya pegawai seloyal Mang dadang Dan Mang kojek. Apalagi Mang dadang itu pegawai almarhum bapak Dari dulu banget yang bahkan udah Tau aku Dari aku Masih TK, nganterin ngaji, pernah nganterin aku ke sekolah pas SMP, sampe udah gede beliau yang bantu bangunin aku rumah.
Aku Bener-bener bersyukur punya pegawai loyal Dan suami yang support aku untuk selalu memperhatikan pegawai - pegawai Vulcano karena bagi kita sekarang Vulcano udah jadi bagian Dari hidup. Aku sangat bersyukur punya pasangan yang perhatiannya sama pegawai sama kaya aku bahkan mungkin lebih. Karena kalau dipikir-pikir, gak pernah kebayang punya pasangan yang bisa se-effort kamu memperhatikan Vulcano.
Hampir Dua tahun nikah, kehidupan yang kita jalani sama-sama bikin aku banyak belajar Dan makin sayang sama kamu. Aku juga tiap harinya bertumbuh jadi pribadi yang lebih baik sama kamu. Dan yang paling penting aku belajar bahwa jatuh cinta pada pasangan yang halal itu gak bikin kita sakit tapi bikin kita bertumbuh. Karena setelah jatuh yang kita lakukan adalah sama-sama bangun. Bangun hubungan yang baik dengan Allah subhanawataalla, bangun komunikasi yang terbuka, bangun komitmen, bangun rumah tangga.
I can't wait to creating a new life with you, a good life, sakinah, mawadah, Dan warahmah bersama. Kalau sholat itu tiang agama, maka nikah bagaikan atap. Yang dibawahnya kita bisa berteduh meskipun badai menerjang. Karena percayalah ga ada yang namanya happily ever after dalam kehidupan ini, apalagi pernikahan. Cuma dengan berpegang teguh pada prinsip islami kita bisa bertahan melewati badai itu.