Langsung ke konten utama

Extrovertism

Alone for an extrovert are depressing. and that's all I can say. 

semakin dewasa gue semakin sadar yang gue suka dan yang bikin gue bahagia adalah kalau bisa bantu orang. kalau gue bisa berada di tengah orang-orang. Dua tahun belakangan susah sekali rasanya mau ada di antara orang-orang. 

Dulu, gue takut sama kepribadian gue yang selalu ingin jadi pusat perhatian. karena jadi pusat perhatian itu sama juga artinya kita hidup di dalam toples bening yang kalau gue ngelakuin kesalahan sekecil apapun, gue harus siap menanggung judgement orang terhadap gue. 

Tapi menjadi pusat perhatian juga berarti approachable. Mudah di hubungi, bisa dimintai tolong kapan aja, dan selalu dibutuhkan. Belakangan gue sadar bahwa yang bikin gue bahagia adalah kalau gue bisa terkoneksi dengan setiap orang di dunia ini. kalau ada miliaran orang di dunia, lantas kenapa gue harus merasa sendiri? 

Gue sadar gue selalu berusaha keras untuk tetap terhubung, untuk tetap terlibat, untuk tetap ada. Karena itulah makna hidup buat gue. Karena disaat gue tidak ada, disaat gue memutuskan untuk sendiri, disaat gue memilih menghilang, gue kehilangan jati diri gue. 

Antara fear of judgement or fear of missing out gak ada yang mending, tapi kalau gue sebagai extrovert, gue akan memilih fear of missing out. Karena nyatanya gue ngelakuin apapun orang akan tetap ngejudge gue sesuka mereka. But I don't want to lose my chance to make effort on this life, or in this world. sekecil apapun effort yang bisa gue timbulkan.

Dari gue kecil, gue selalu senang ngerancang pesta, nyusun acara, ikut acara kumpul-kumpul. Pas gue kuliah, gue berkesempatan jadi orang paling approachable di kampus. Dan waktu tahun 2014 gue ngalamin masalah yang cukup berat sehingga gue terpaksa jadi introvert sementara, itu gue depresi bukan main. Sejak saat itu gue gak jadi the most approachable person anymore. Dua tahun gue struggling karena gue ngerasa gak jadi diri gue sendiri. sampai pas tahun 2016 gue jadi Buddy for international students. Jam berapapun, kemana pun, gue jabanin. Because I am feel so use-full at that time, dan ngerasa balik ke jati diri gue lagi. 

sekarang kalau gue flashback kebelakang, apa hal yang paling gue rindukan. Hal yang paling gue rindukan adalah bisa jadi tempat buat teman-teman gue dan orang terdekat gue berkumpul. you need some place to hangout, just come to my place and I'll provide it. every single thing you need. I really love being a hostess and hospitality job is really my thing. kadang melelahkan, ya gue gak mungkiri sometimes being too attached to people is exhausting

Dulu pernah dalam sehari gue ada janji untuk pertemuan sama tiga acara yang berbeda, di tiga tempat yang berbeda, dari tiga organisasi yang berbeda. melelahkan tapi gatau kenapa gue happy banget jalanin nya saat itu. Gue pernah beberapa kali bikin acara kumpul-kumpul juga di rumah orangtua gue, entah itu buat temen SMA, temen Kampus, atau sepupu-sepupu gue. Bedanya mungkin setelah dewasa kalau gue mau bikin acara kumpul-kumpul ya harus lebih family friendly karena sepupu dan temen gue udah banyak yang punya anak. selain itu juga dari segi obrolan gue gak bisa asal ngomong lagi. 

Terakhir gue kumpul-kumpul sampai malem itu sebelum bulan puasa, agendanya di rumah sepupu gue, dan gue meskipun jadi tamu, tetep ga bisa dateng dengan tangan kosong, jadi gue beli dessert dan juga cartoon biskuit buat ponakan-ponakan gue. Hal yang menyenangkan dari bisa menerima perubahan keadaan di sekitar kita adalah kita jadi lebih bisa melakukan banyak hal yang bukan cuma bisa membahagiakan orang lain tapi juga diri kita sendiri. Setelah sepupu dan sahabat gue nikah terus punya anak, gue belajar untuk menghargai kehidupan pribadi mereka sekaligus tetap bisa memberikan support dan kasih sayang gue untuk anak-anak mereka. Dan bisa diterima oleh ponakan-ponakan gue seperti dulu orangtuanya menerima gue dengan segala kekurangan gue adalah hal yang saat ini sangat gue syukuri. 

But the most important thing in giving is you can't pour from an empty cup. And to keep filling your own cup is your own responsiblity. I believe if I keep refill my cup, I will be able to keep pour it to others. And I hope what I fill in my cup is kindness and happiness, so I will pour the best thing I had in life to others.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Orangtua Belajar Dari Anaknya?

dapet ide setelah nonton miss indonesia 2011. aku lagi nonton sesi pertanyaan untuk 10 besar finalis miss indonesia 2011 dan check what i've got. salah satu dari 10 besar finalis miss indonesia 2011, kalo aku gak salah finalis dari Kalimantan Barat (Kayla Natalia Hamam) mendapat pertanyaan dari temanyya tapi aku lupa finalis dari provinsi mana dan siapa. yang pasti pertanyaannya " perlukah orangtua belajar dari anaknya? " and her answer is " perlu, karena dalam pembelajaran tak ada batasan usia. kita bisa belajar dari anak-anak tentang ketulusan, kejujuran, dan semangat" dan aku rasa itu betul sekali. and i really agree with that answer. Arti mendidik yang sebenarnya adalah bukan mengajarkan hal yang benar tetapi sama-sama belajar. Oleh karena itu di sekolah ada proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). KBM pada arti yang lebih luas bukan hanya guru mengajar dan murid belajar, namun sebaliknya. Murid mengajari guru dan guru belajar bagaimana memahami ana...

Bukan childfree

 Anak itu bagai kanvas kosong. Kita Tau kan kanvas itu harganya tidak murah, sehingga ketika kita mau melukis di kanvas, banyak yang kita pikirkan. Mau melukis apa, pakai cat apa, bahan kanvas nya nanti pakai yang gimana, bahkan sebelum melukis di kanvas kadang kita buat dulu sketsa gambar yang akan dilukis itu. Terus ketika mau menorehkan tinta, kita oles dengan hati hati tinta itu di kanvas. Kurang lebih begitu penggambaran fatiya soal anak.  Memiliki anak itu tidak sama seperti memilih pasangan Dan menikah. Karena ketika menikah kita Dan pasangan kita sama sama dua orang manusia yang sudah dewasa. Namun anak itu adalah manusia mungil yang bahkan belum bisa apa-apa. Mereka hanya bisa bergantung pada orang dewasa di sekitarnya.  Secara biologi, bayi manusia lahir dalam keadaan premature meskipun lahir di usia kandungan 9 bulan. Karena setelah lahir, bayi manusia tumbuh sempurna di pelukan ibunya. Itulah mengapa bayi manusia sangat bergantung pada orang dewasa di sekitarn...

Indigo

Indigo indigo itu sebenarnya nama lain dari warna nila. kalau di Indonesia kita mengenal warna pelangi adalah MeJiKuHiBiNiU (Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu) dalam bahasa Inggris warna pelangi adalah  Red Orange Yellow Green Blue Indigo and purple  lalu kenapa muncul istilah anak indigo?  Istilah ini muncul ketika seorang peramal Nancy Ann Tappe pada tahun 1970-an. Pada tahun 1982, Tappe menerbitkan buku Understanding Your Life Through Color (Memahami Hidup Anda Melalui Warna). buku tersebut menjelaskan mengenai aura kehidupan dari setiap individu. nah, mungkin bagi kalian yang tahu atau percaya akan adanya warna aura yang mencerminkan diri anda maka anda akan mengenal berbagai macam warna aura seperti yang sudah saya sebutkan dalam warna pelangi tadi, namun tentunya masih banyak lagi warna aura yang ada selain dari warna pelangi yang tadi saya sebutkan. salah satu warna aura yang mencolok adalah warna nila, karena menurut beberapa peramal, warna aura i...